Minggu, 09 Oktober 2011

Journey, day 134

Seorang teman menunjukkan sebuah buku karya Sitor Situmorang yang dia temukan di Resource Center, dan sebuah puisi di dalamnya dibacakannya untukku..

Woman's Song

Hearing you sing
with no hope in your voice
I believe that victory will be had
by those who mourn

Oh, faithful woman
no doubt it is your song that stirs my body
from the welter of grief
that raises a new dawn
and some day, when all this is past
that is you will accept my love
stiff and bloodied
prostrate at your feet


Minggu, 25 September 2011

Journey, day 122

          Seorang teman bertanya pada saya "Apa si istimewanya sunrise dan sunset? Kita bisa melihatnya dimanapun, tidak hanya di Bali.." Pertanyaan ini dilontarkan karena setiap kali bepergian saya selalu berusaha merencanakan perjalanan sedemikian rupa sehingga setidaknya saya bisa melihat sunrise atau sunset. Saya rasa saya bukanlah satu-satunya orang yang begitu ingin selalu melihat fenomena yang indah itu. Di bali ini kemacetan parah sering terjadi menjelang sunset, orang berbondong-bondong mendatangi spot-spot terbaik untuk menikmati sunset. Di Kuta, Tanah Lot dan Uluwatu suasananya riuh, ramai sekali.
          Ketika melihat-lihat foto sunset dan sunrise yang berhasil saya buat, kalau dibuat perbandingan, saya menyimpulkan saya lebih menyukai sunrise daripada sunset. Terasa lebih dramatis. Malam yang gelap pekat tersibak, kegelapan memudar jauh sebelum matahari terlihat. Detik demi detik menghadirkan sensasi tersendiri. Dan ketika matahari mulai muncul, saya ingin melompat sembari berteriak "Here you are..! Nice to see you.!!" Rasanya saya siap menjalani hari ini bersama matahari yang akan menerangi seluruh aktivitas. Sayapun bisa merasakan aura kegembiraan ketika orang mulai keluar menuju ke pantai untuk beraktivitas. Hari yang baru telah datang dan mereka menyambut dengan penuh semangat. 


 "Malam gelap jadi rembang pagi, dan pagi jadi siang terang"

Senin, 19 September 2011

Journey, day 116

Bromo Mountains in the morning
(Monday, 11 Sept 200)
Morning comes in Sanur.. What a lovely moment.! 
(Sat, 17 Sept 2011)

Bali Botanical garden.. What a beautiful place..!
(Sat, 17 Sept 2011)


Kuta's sky after sunset
(Monday, 12 Sept 2011)



Sunset moment in Tanah Lot
(Sat, 17 Sept 2011)


Hey.. it's me..!

Minggu, 11 September 2011

Journey, day 108


            Ketika mendengar kabar bahwa saya lulus seleksi untuk mengikuti pelatihan di Bali, senang sekali rasanya. Terbayang semua yang indah tentang Bali dan saya bisa menikmatinya selama sebulan..! Semakin menarik karena saya akan diberi penginapan dan diberi uang saku, semua urusan saya akan ditangani event organizer. Itu artinya saya disuruh melakukan pekerjaan yang saya suka, dibayarin, diurusin, disuruh piknik pula.. Luarbiasa sekali..! Saya berangkat dengan riang.. Saya siap berburu foto-foto indah.
            Semua berjalan lancar sampai kami tiba di quest house yang cantik ini. Suasananya kontras dengan lingkungan sekitarnya yang terkesan kumuh. Agak mengganggu keriangan hati saya.. Sedikit banyak saya tahu bagaimana para perantau di Denpasar ini, mereka tinggal di kamar-kamar kos yang sempit tapi mahal, bersama seluruh anggota keluarganya. Bisa dibayangkan bagaimana mereka hidup berjejal-jejalan. Seandainya mereka bisa merasakan kehidupan yang lebih baik.. (Hufff..). Banyak kos-kosan semacam ini di sekitar Guest House.
            Keriangan hati saya kembali berkurang ketika menyadari kalau kamar indah yang saya tempati ini tidak ada TV-nya. Bagaimana mungkin saya sendirian di kamar tanpa TV selama satu bulan.? Tiba-tiba saya merasa lonely.. Denpasar yang panas ini semakin terasa terik ketika saya keluar mancari makan. Tidak seperti ditempat-tempat lain, jalannya tidak bisa nembus langsung ke jalan raya. Saya harus melewati gang-gang sempit dan berkelok-kelok. Terpaksa makan nasi padang yang keras dan pedas (setelahnya saya jadi sakit perut..) karena teman-teman mencari tempat makan yang aman dari makanan haram.
Saat pulang saya mengikuti rute teman yang katanya lebih cepat. Tapi apa terjadi? Kami tersesat, jalannya buntu..! Di depan hanya ada ladang yang menyeramkan. Kami nekad saja menerbos ladang itu karena seekor anjing besar membuntuti kami sambil terus menggonggong. Dua teman saya adalah pria bertubuh tinggi besar tapi mereka takut anjing. Saya tidak takut anjing tapi saya takut rabies. Itulah sebabnya kami nekad melewati ladang itu daripada harus bertemu anjing itu kembali. Huufff, kemudian saya melihat balai bengong, berarti sebentar lagi ada gapura menuju ke jalan. Saya sempat melirik, ada beberapa anjing besar sedang tiduran. Seorang pria hitam besar sedang membuat layang-layang besar yang juga berwarna hitam, mukanya terheran-heran melihat kami keluar dari belakang rumahnya. Saya tanya jalan menuju guest house kami. Dia menjawab kurang simpatik dan anjing-anjing yang tadi diam ikut-ikutan tidak simpatik karena semua menggonggong keras sambil mengelilingi kami.. Kami baru bisa sampai ke guest house setelah 2 kali lagi bertanya. Bayangkan kalau setiap hari saya harus melewati rute ini..!
Sembari mencoba beristirahat, saya berpikir.. Bagaimana bisa dengan mudah keriangan hati saya surut dan prosesnya begitu cepat? Padahal masih banyak hal baik lain yang siap menanti saya..? Bagaimana bisa semangat saya untuk belajar tiba-tiba melorot drastis begini.? Saya masih berpikir dan belum menemukan jawabnya..



Jumat, 09 September 2011

Journey, day 106


Saya terlambat membaca sebuah sms, begini bunyinya ”Ibu, saya sudah sampai, tapi kalau ibu masih sibuk tidak apa-apa, saya akan tunggu.” Seminggu ini banyak sekali yang harus saya kerjakan, semuanya mendesak dan penting. Sms tadi dikirim karena memang saya ada janji dengan anak PMK untuk belajar menggunakan kamera. Dia yang akan mengajari saya. Ternyata tidak cuma satu, karena akhirnya saya diajari oleh dua orang sekaligus.. Kami bertemu ketika saya sudah letih dan mereka tetap mengajari saya dengan semangat.
Saat kami sibuk dengan kamera, satu persatu anak-anak PMK yang lain datang, karena memang mereka hendak rapat persiapan retret. Demi rasa lelah dan kepala yang telah penuh, akhirnya saya tinggalkan mereka. Sambil coba mempertahankan memori tentang ISO, diafragma, fokus, ligthing, dll, saya hendak beristirahat. Tapi sampai saya pulang, bahkan ketika hendak beranjak tidur, saya masih mengingat anak-anak PMK itu. Ada perasaan yang tidak bisa saya jelaskan. Saya mencoba mereview ulang masa 10 tahun yang lalu, ketika saya memutuskan profesi yang hendak saya tekuni, merekalah motivasi saya. Saya merelakan banyak hal demi kerinduan untuk tetap bisa melayani mahasiswa. Dan saat ini, ketika saya sudah ada ditempat yang saya inginkan, mengapa saya merasa sangat jauh?
Ini menjadi kali pertama dalam rentang waktu empat tahun, saya berdoa sambil membayangkan wajah-wajah mereka. Saya pernah minta dipertemukan dengan wajah-wajah ini, tapi mengapa sekarang saya mengabaikannya..? Dan inilah doa saya:
”Tuhan, berkatilah mereka ini,
yang dalam kemudaannya rindu untuk mengenal Engkau.
Bimbinglah, supaya mereka mau memilih jalan yang Engkau sediakan.
Yakinkanlah pada mereka, kalau selalu tersedia jalan pulang ketika mereka ingin mencoba mengambil jalan mereka sendiri.
Berilah mereka kesanggupan untuk bertahan dan berjuang.
Dan di atas semua itu, berilah mereka hati yang mengasihiMu
dengan kasih yang memerdekakan.”
Amien
             Saya tidak tahu, apa yang hendak saya lakukan kepada mereka selanjutnya.? Tapi yang jelas, saya harus memulainya dengan meminta supaya beban itu dikembalikan ke dalam hati saya dan saya diberi kesanggupan untuk mengasihi pribadi demi pribadi. Semoga Allah berkenan..


Rabu, 31 Agustus 2011

Journey, day 97


Tak banyak yang saya lakukan diliburan kali ini. Hanya tinggal di rumah, memasak, menyambut tamu, membuka internet dan yang pasti membaca. Ketika kakak saya menyodorkan sebuah buku sebelum dia berangkat liburan, saya tidak begitu antusias. Sebenarnya saya lebih tertarik untuk membawa majalah-majalah fotografi miliknya. Saya merasa kurang antusias karena buku itu berupa graphic novel atau lebih tepatnya berupa komik, terlalu ringan untuk saya. Anthony de Mello, okelah.. Saya cukup familiar dengan nama itu dan saya membawanya pulang. Buku yang didesain untuk menjadi bahan perenungan itu saya baca dalam waktu sehari. Setelah membacanya saya malah bersyukur karena buku itu dibuat dalam bentuk komik. Sekarangpun saya memahami mengapa buku itu diberi judul ”Kicauan Burung”.
Beberapa bagian buku itu membuat saya tersenyum dan bahkan tertawa geli. Tapi dibagian yang lain, sayapun bisa tertunduk sedih. Saya geli karena sering kali hanya dengan sedikit pengetahuan, saya bisa merasa pakar disuatu bidang. Saya juga sering merasa paling benar dan sulit menerima masukan orang lain. Seseorang sering marah kepada saya karena sering kali saya meminta pendapatnya tapi saya mengambil jalan saya sendiri. Saya sudah membuat dia berpikir untuk saya tapi kemudian saya mengabaikannya. Sedihnya, saya melakukannya diluar kesadaran dan berulang-ulang..
De Mello membantu saya untuk lebih aware dengan kekinian. Saya sibuk dengan masa lalu yang tidak bisa saya ubah dan masa depan yang tidak bisa saya lihat. Saya melelahkan diri sendiri sehingga lupa untuk menikmati saat ini. Kesadaran akan keberadaan saya saat ini, akan membawa saya kepada kesadaran akan keberadaan Sang Khalik. Tuhan itu tidak jauh, saya bergerak, bernafas, berpikir, berkehendak di dalam Dia. Tapi sayangnya, saya malah berteriak-teriak ”Tuhan.. dimana Engkau?” Saya tidak buta, tidak tuli, tapi mata saya tidak mampu melihat dan telinga saya tidak mendengar. Karena saya membangun konsep sendiri tentang Tuhan, saya mau Tuhan seperti yang ada dalam benak saya. Tentunya dengan seluruh kriteria yang telah saya tetapkan. Saya tahu sekarang, kalaupun saya menemukannya, itu bukanlah Tuhan yang sesungguhnya. Benak saya ini terlalu kecil untuk bisa memuat Tuhan yang sebenarnya. Ketika saya berkunjung ke Tomohon, seorang teman bertanya apakah saya sempat ke Bukit Kasih? Saya jawab, ”Ya, saya ke Bukit Kasih tapi tidak naik sampai ke atas. Percuma saja berlelah-lelah mendaki bukit terjal hanya untuk menjumpai salib yang palsu”. Memang ada salib besar terbuat dari keramik di puncak bukit itu. Jawaban saya yang bercanda itu sebenarnya menggambarkan perjalanan rohani yang sedang saya tempuh. Saya tidak ingin berlelah-lelah hanya untuk menjumpai kebenaran yang bukan kebenaran yang sesungguhnya. Saya mau hasil perjalanan ini worthed dengan kerja keras saya dalam menjalaninya.
Untuk orang yang terus mempertanyakan eksistensi Tuhan dan responNya terhadap setiap hal buruk di dunia ini, de Mello menyamakannya dengan bayi yang menangis. Apa yang bisa dilakukan untuk orang yang seperti ini? ”Paling baik dibiarkan saja. Ia sedang mengalami tahap pencarian dan pertumbuhan.” Kalau si bayi sudah berhenti menangis, Ia telah siap menerima kebenaran. Hemm.. Ada bayi yang sedang menangis dalam diri saya. Bayi yang menangis ketakutan karena baru menyadari kalau ia berada di tempat yang asing. Tapi tangis ketakutan itupun adalah sebuah indikasi, kalau si bayi siap menerima kebenaran. Ketika tangisan reda dan ketakutan hilang, semoga saya menemukan Iman saya kembali.
Saya bersyukur di dunia ini pernah hidup orang-orang seperti Anthony de Mello  yang dengan hati nuraninya yang tulus, berani menyingkapkan kebernaran. Menunjukkan kesalahan tapi dengan cara yang lembut dan penuh kasih. Meski untuk itu dia dianggap membahayakan dan dapat menimbulkan permasalahan besar. Dan sayapun sempat menaruh curiga terhadap kematiannya yang janggal. Hemm.. Rupaya buku ini akan masuk dalam daftar buku paling berpengaruh dalam hidup saya...

"Jalan kebenaran itu sempit. Anda selalu berjalan sendirian"
(Anthony de Mello)

Jumat, 19 Agustus 2011

Journey, day 85

Indonesia tanah air beta...
Banyak ragam seni budayanya,
Kreatif dan bercitarasa tinggi,
Melimpah kekayaan alamnya dengan panorama yang sangat indah..
JANGAN SAMPAI SALAH URUS LAGI..!



Reog Ponorogo dan Fashion Carnival

 Kekayaan ini lebih dari cukup untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia