Rabu, 07 Desember 2011

Journey, day 193

I cant say it in blunt
I don't, I cant see it high
It is just a yesterday high
It is circled by today low
It is circled by tomorrow high
And the blush on your cheeks tells no cracks
Sweetheart, the season comes as it came yesterday.
(Alfa Farah)

Thanks Alfa for understanding me.. I'm blessed to have a friend like you..
May God bless you, always..

Sabtu, 26 November 2011

Journey, day 182

Saya terperanjat membaca sebuah sms dari seorang teman, ternyata sebuah puisi yang sangat indah melebihi ribuan nasehat atau petuah. Puisi ini begitu pas menggambarkan perjalanan yang sedang kami tempuh, sebuah grup beranggotakan empat orang, yang dipertemukan oleh kerjasama dari setiap elemen alam semesta. Sebuah bukti kalau kami sangat dicintai oleh Sang Khalik. Jelas ini bukan sebuah kebetulan.


It comes again today
I am worried and I hold my head up to the sky
I am a stone, a frozen stone
I could not go deeper to the water as I am breaking the seasons
It could be right as much as it could be wrong
I am blind? Could not read what's been written behind the cloud
I am stone, breaking the seasons and hold my head up high

(Alfa Farah)

Selasa, 15 November 2011

Journey, day 171

Bali in my eyes..

Bukan hanya di jawa, orang bali juga punya tradisi batik.


Saya seneng bertemu bapak itu..
Beliau baru pulang dari sawah ketika saya ambil fotonya dan lihatlah bagaimana dia berpose.
Sebuah bukti kalau pariwisata sudah mendarah daging di Bali
dan masyarakatnya sangat memahami kalau merekalah daya tarik Bali yang sesungguhnya.


Sepi sendiri menikmati sunset ini..?
Salah..!! Ada ribuan orang di tepi pantai ini yang sama seperti saya,
menikmati indahnya sunset, tepat di spot terbaik pantai Kuta


Indahnya baju pengantin Bali
Mewah dan Elegan


Pagelaran Kecak terbaik di Ulu Watu
yang dipentaskan persis ketika matahari mulai terbenam
Siapa bisa mendisplai panggung semegah ini..?

Salah satu bukti keterbukaan masyarakat Bali
Ibu ini mengijinkan saya mengikuti prosesi sembayang yang dia lakukan tiap pagi tanpa merasa terganggu
bahkan dengan senang hati dia jelaskan makna setiap bagian prosesi.

Minggu, 13 November 2011

Journey, day 169

          Dua hari lalu saya menemani seorang teman potong rambut di sebuah salon. Sambil membaca tabloid (sejenis bacaan yang hanya saya baca diruang tunggu..), sesekali saya terlibat pembicaraan dengan teman saya dan pemilik salon itu. Ada cerita pemilik salon tentang keponakannya yang masih duduk dikelas 2 SD. Suatu kali anak itu menelepon hanya untuk membagikan perasaan bahagianya. Lucu sekali karena anak itu merasa bahagia setelah membuka internet dan menemukan bahwa ternyata srigala tidak termasuk dalam kelompok anjing..!! Anak itu bukan pencinta anjing apalagi srigala, tapi sebuah pengetahuan sederhana itu sudah membuat dia berbahagia dan begitu bahagianya sampai ia ingin segera bercerita kepada orang lain.
          Pembicaraan kami sore itu terus terngiang dan mempengaruhi saya. Ada yang berubah, saya mulai ingin menciptakan bahagia lewat hal-hal sederhana seperti anak kecil itu. Saya bahagia ketika menyaputkan bedak diwajah saya, bedak itu sangat lembut dan nyaman diwajah. Ah bahagianya ternyata lip liner yang baru saya beli sangat pas dengan warna lipstik favorit saya.. Lantas masih dengan bahagia saya mengambil kalung berwarna kuning. Benda yang sangat jarang saya pakai karena ribet dan mengganggu aktivitas.. Bahagianya melihat kalung kuning itu matching dengan baju saya yang bermotif semburat kuning. Sayapun pergi ke kampus dengan perasaan bahagia..
          Saya jadi ingat Joel, anak sahabat saya. Kami bertemu minggu lalu. Anak itu begitu exciting bertemu saya, sampai lewat jam tidurnyapun dia masih saja ada disekitar saya sambil terus bicara. Demi supaya dia diam karena saya kuatir dia kecapekan, akhirnya saya beri soal-soal penjumlahan sederhana. Dia memang hebat, masih TK tapi sudah lancar penjumlahan sampai angka 20 dan semua soal dibabat habis. Tak mempan dengan soal matematika, saya memintanya menggambar dan waktu dia tanya "gambar apa?", spontan saya jawab, "rumah" karena memang saya sedang membahas soal rumah dengan orang tuanya. Wooww.. tak berapa lama dia datang dengan sebuah gambar ditangannya. Sebuah gambar yang unik, ada 3 potongan gambar yang dia rekatkan dengan selotip pada sebuah kertas dan ada anak panah yang menghubungkan satu gambar dengan yang lain. Saya sangat terharu karena akhirnya ada orang yang menggambar rumah impian saya.. Gambar itu luar biasa..!! Desain rumah pada umumnya dibuat tampak depan dan tampak samping, tapi ini desainnya berbeda. Joel membual 3 gambar dengan dimensi waktu yang berbeda..!! Siang hari, sore hari dan malam hari..!! Hahaaa.. surprise sekali waktu dia menjelaskan rumah putih bergenting merah pada siang hari itu akan tampak temaram pada sore hari dan tampak hitam pada malam hari.. Saya bahagia sekali..! Dia membuatnya untuk saya..
          Saya berpisah dengan Joel dengan harapan tinggi bahwa seseorang akan benar-benar menggambar desain rumah saya. Saya ingin orang itu mendesainnya dengan riang gembira seperti Joel, saya ingin rumah didesain sedemikian rupa, penuh dengan filosofi seperti ketika Joel mendiskripsikan siang, sore dan malam hari. Saya ingin setiap kali  memasuki rumah, saya ingat makna yang tersirat dari rumah itu. Ah, saya belum memilikinya tapi saya sudah begitu bahagia. Kata Charles R Swindoll, dari hal-hal kecil semacam ini, kita membangun sebuah harapan besar.. Saya punya lebih dari sejuta alasan untuk bahagia bukan..?? Jadi kira-kira sebesar apa harapan yang bisa saya bangun..??

Minggu, 09 Oktober 2011

Journey, day 134

Seorang teman menunjukkan sebuah buku karya Sitor Situmorang yang dia temukan di Resource Center, dan sebuah puisi di dalamnya dibacakannya untukku..

Woman's Song

Hearing you sing
with no hope in your voice
I believe that victory will be had
by those who mourn

Oh, faithful woman
no doubt it is your song that stirs my body
from the welter of grief
that raises a new dawn
and some day, when all this is past
that is you will accept my love
stiff and bloodied
prostrate at your feet


Minggu, 25 September 2011

Journey, day 122

          Seorang teman bertanya pada saya "Apa si istimewanya sunrise dan sunset? Kita bisa melihatnya dimanapun, tidak hanya di Bali.." Pertanyaan ini dilontarkan karena setiap kali bepergian saya selalu berusaha merencanakan perjalanan sedemikian rupa sehingga setidaknya saya bisa melihat sunrise atau sunset. Saya rasa saya bukanlah satu-satunya orang yang begitu ingin selalu melihat fenomena yang indah itu. Di bali ini kemacetan parah sering terjadi menjelang sunset, orang berbondong-bondong mendatangi spot-spot terbaik untuk menikmati sunset. Di Kuta, Tanah Lot dan Uluwatu suasananya riuh, ramai sekali.
          Ketika melihat-lihat foto sunset dan sunrise yang berhasil saya buat, kalau dibuat perbandingan, saya menyimpulkan saya lebih menyukai sunrise daripada sunset. Terasa lebih dramatis. Malam yang gelap pekat tersibak, kegelapan memudar jauh sebelum matahari terlihat. Detik demi detik menghadirkan sensasi tersendiri. Dan ketika matahari mulai muncul, saya ingin melompat sembari berteriak "Here you are..! Nice to see you.!!" Rasanya saya siap menjalani hari ini bersama matahari yang akan menerangi seluruh aktivitas. Sayapun bisa merasakan aura kegembiraan ketika orang mulai keluar menuju ke pantai untuk beraktivitas. Hari yang baru telah datang dan mereka menyambut dengan penuh semangat. 


 "Malam gelap jadi rembang pagi, dan pagi jadi siang terang"

Senin, 19 September 2011

Journey, day 116

Bromo Mountains in the morning
(Monday, 11 Sept 200)
Morning comes in Sanur.. What a lovely moment.! 
(Sat, 17 Sept 2011)

Bali Botanical garden.. What a beautiful place..!
(Sat, 17 Sept 2011)


Kuta's sky after sunset
(Monday, 12 Sept 2011)



Sunset moment in Tanah Lot
(Sat, 17 Sept 2011)


Hey.. it's me..!